728x90 AdSpace

recentcomments
  • Latest News

    Saturday, November 5, 2016

    ​Minat Baca Generasi Z Hanya 9% (versi AC)

    MENURUT data World’s Most Literate Nations yang dirilis Central Connecticut State University termutakhir (2016), peringkat minat baca masyarakat Indonesia berada di posisi hampir juru kunci alias ranking ke-60 dari 61 negara yang diteliti. Kondisi ini tak jauh berbeda dengan hasil survey Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan atau UNESCO, empat tahun silam. UNESCO melansir indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 yang berarti dari 1.000 masyarakat Indonesia hanya ada 1 orang yang memiliki minat baca sungguh-sungguh.

    Budaya baca yang rendah menghasilkan kemampuan membaca yang terbatas karena sekalipun sudah melek aksara, jika tidak digunakan maka melek aksara penduduk menjadi pasif dengan peraihan kosa kata yang terbatas sehingga cukup kerepotan menyimak bacaan yang sedikit lebih kompleks. Hal ini terpotret dari hasil penelitian internasional, Programme for International Student Assessment (PISA) yang secara berkelanjutan dilakukan oleh Kerja sama negara maju (OECD). Menurut Laporan PISA termutakhir 2012, kemampuan membaca siswa Indonesia menduduki urutan ke-69 dari 76 negara yang disurvei yang tidak hanya jauh di bawah Sngapore bahkan jauh lebih rendah dari Vietnam yang menduduki urutan ke-12 dari total negara yang diranking.
    Melihat fakta yang cukup memprihatinkan ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sebagai “leading sector” merasa berkepentingan untuk meresponnya dengan mengeluarkan peraturan menteri (Permendikbud) No. 21/2015 tentang penumbuhan budi pekerti salah satunya dengan pembiasaan membaca selama 15 menit di awal pembelajaran. Diharapkan pembiasaan lewat sekolah ini akan mampu menjadi stimulan untuk meningkatkan gairah membaca yang berkesinambungan sehingga menjadi kebiasaan yang akhirnya terinternalisasi dengan meningkatnya budaya baca.
    Budaya baca masyarakat merefleksikan kemajuan sebuah bangsa sehingga masyarakat di negara maju seperti Jepang, setidaknya sekira 5-10 buku rerata setiap orang membacanya per tahun. Di Indonesia, bahkan di provinsi paling maju pendidikannya yang kemudian dikenal sebagai kota pendidikan seperti DI Yogyakarta, indeks budaya bacanya baru mencapai 0,049 sebagai indeks tertinggi di Indonesia. Jika dibandingkan dengan budaya baca negeri jiran, seperti Singapura tentu masih terlalu jauh, dengan indeksnya yang sudah mencapai 0,45.
    Di samping belum terbiasa, upaya untuk meningkatkan minat baca ini, terkendala semisal dukungan fasilitas dan keberadaan tempat membaca dan bahan bacaan yang memadai dan relatif mudah dijangkau, terutama di daerah perdesaan.
    Keterbatasan ini tentu bukan hal utama karena yang lebih penting adalah minat dan budaya baca. Setidaknya, sekalipun jauh tertinggal dari negara maju dan tetangga, minat baca masyarakat Indonesia tak sepenuhnya nihil. Jika merujuk laporan tahunan perkembangan prestasi siswa Indonesia (PISA) versi OECD dalam hal membaca, meskipun agak paling bawah namun masih lebih baik dari Saudi Arabia. Padahal rerata kepemilikan buku bacaan anak SMP/MTs di Indonesia hanya 1 buku berbanding 10 rerata anak sebayanya di Saudi Arabia. Artinya hanya punya 1 namun dibaca itu lebih baik daripada punya 10 buku dengan fasilitas lainnya namun taka da minat baca.
    Dengan kemampuan rerata ekonomi masyarakat kita jauh dari negeri petro-riyal tersebut, maka sekalipun rendah minat baca sudah ada tinggal ditumbuhkembangkan. Dengan penghasilan yang minimal, di mana sebagian besar dialokasikan untuk makan dan bertahan hidup namun tetap masih ada minat baca. Artinya jika suatu saat, infrastruktur perpustakaan di desa makin memadai maka Indonesia mampu melintasi “jebakan” middle income track yang tak mudah sebagaimana pengalaman banyak negeri lainnya di berbagai belahan dunia yang tak lulus melewatinya lewat peningkatan literasi membaca yang akan berkontribusi pada kualitas pembelajaran.
    Terkait minat dan budaya baca ini, nampaknya pola yang dikembangkan negara maan seperti Belanda bisa ditiru secara bertahap dengan menyelaraskan situasi kondisi dan budaya masyarakat. Sisi positifnya, belajar dari pola Belanda lebih mudah daripada negara mapan lainnya karena tatanan kepemerintahan Indonesia sebagian besar mirip dengan Belanda. Di negeri Pangeran William Alexander ini , membaca sudah dimulai sejak dini dengan tersedianya perpusatakaan desa atau kelurahan yang terintegrasi dengan beragam pusat aktivitas.
    Desa atau kelurahan (wijk) terintegrasi dalam satu komplek termasuk tempat olah raga, posyandu, sekolah TK-SD (Basis-School) dan perpustakaan serta pusat perbelanjaan (Winkelcentrum). Jadi perpustakaan alias Bibliotik, merupakan salah satu tempat paling nyaman dalam mengisi pergantian aktivitas dan juga tempat pertemuan antarwarga (melting-pot). Kepemilikan kartu perpustakaan dianjurkan untuk setiap warga dan khusus untuk anak-anak gratis berbeda dengan dewasa yang berbayar.
    Tradisi baca semakin menggelora ketika anak memulai sekolah menengah, jika masuk Lyceum dan gymnasium alias kelas anak-anak “pintar secara akademik”, maka setiap pekan harus menuntaskan novel untuk dipresentasikan berbaur dengan perjuangan menekuni bahasa Inggris (bahasa internasional), Perancis (bahasa menak terpelajar) dan Latin (bahasa keilmuan).
    Untuk anak yang secara akademik tak cemerlang diarahkan masuk ke sekolah yang bersifat praktis yang tetap membutuhkan kemampuan baca hanya ragam bahasa Asingnya tak berjejer, cukup Bahasa Inggris. Dengan trak pendidikan yang jelas sejak awal, maka tak banyak anak-anak yang dipersiapkan masuk universitas namun lebih banyak pada trak vokasional. Sekalipun tak melanjutkan di universitas tak berarti pendapatan lebih kecil karena pendidikan vokasi justru lebih cepat mendapatkan pekerjaan dan tak sedikit dengan pendapatan yang lebih tinggi dari lulusan universitas.
    Di sekolah yang merujuk standar International Bacalaurate (IB), juga menekankan tradisi baca dan mengartikulasikan gagasan. Setiap bulan sekali, mereka harus menuntaskan satu novel untuk selanjutnya diresensi dan dipresentasikan di depan kelas. Sungguh sangat berat pada awalnya dengan modal bahasa Inggris yang terbatas. Aktivitas ini dikenal dengan “Book Challenge” yang menantang siswa untuk menyerap esensi buku dan yang lebih membutuhkan waktu “belajar”adalah refleksi.
    Refleksi adalah bagaimana pesan buku itu untuk kehidupan keseharian sehingga kontekstual dan bisa dipraktikkan dalam kehidupan keseharian (kontekstualisasi). Kontekstualisasi ini penting agar pengetahuan dipraktekan dalam keseharian sehingga terasa manfaatnya dan menyerap awet tak hanya dalam kognisi namun juga afeksi. Tanpa kontekstualisasi, anak-anak tidak akan merasa manfaat pembelajaran termasuk manfaat pembiasaan membaca, meresensi, merefleksi dan mempresentasikan hasil bacaanya. Dengan cara inilah, membaca menjadi kebutuhan sehingga tiada hari tanpa membaca. [***]

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: ​Minat Baca Generasi Z Hanya 9% (versi AC) Rating: 5 Reviewed By: -
    Scroll to Top